Kab. Bandung, Kontroversinews | Beberapa waktu lalu, sejumlah wali murid dari SDN Cijagra 1, SDN Cijagra 3, dan SMP Mekarpawitan di Desa Karangpawitan, Kecamatan Paseh, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, memilih mengembalikan paket Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan kepada anak-anak mereka. Aksi tersebut kemudian menjadi viral setelah videonya tersebar luas di media sosial.
Menu MBG yang dibagikan di sekolah tersebut berasal dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Paseh 1. Dalam video yang beredar, terlihat sejumlah wali murid datang berbondong-bondong ke dapur SPPG Paseh 1 untuk mengembalikan paket makanan MBG.
Saat ditemui awak media Kontroversinews.com, Sabtu (14/3), pihak dapur SPPG yang enggan disebutkan namanya menjelaskan bahwa pengembalian makanan memang terjadi. Namun, hal tersebut dinilai cukup mengherankan karena sebelumnya berita acara penyerahan makanan telah ditandatangani oleh pihak sekolah.
Lebih lanjut, pihak dapur menjelaskan bahwa dari 3.064 penerima manfaat (PM), hanya 596 PM yang mengembalikan paket MBG tersebut. Menurutnya, pengembalian tersebut tidak disertai alasan yang jelas, sehingga muncul dugaan adanya penggiringan opini yang seolah-olah ingin menjelekkan program pemerintah MBG.
Kegaduhan terkait program MBG di Kecamatan Paseh ini diduga berawal dari ajakan salah satu oknum guru wali kelas di sebuah sekolah dasar negeri yang mengimbau para wali murid untuk bersama-sama mengembalikan paket makanan tersebut.
Sementara itu, ahli gizi dari SPPG Paseh 1, yang juga meminta namanya tidak disebutkan, menyayangkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan bahwa makanan yang dibagikan telah disusun sesuai standar gizi.
“Menu yang diberikan kepada anak-anak sudah kami kategorikan layak dan bergizi, dengan anggaran sekitar Rp8.000 hingga Rp10.000 per porsi. Paket tersebut berisi 1 cup puding, 5 buah bola ubi ungu keju, dan 4 biji buah kurma, yang telah dihitung kandungan gizi serta nilai harganya pada setiap item,” ujarnya.
Pihak SPPG berharap kejadian serupa tidak kembali terulang di kemudian hari. Mereka juga menyatakan terbuka untuk menerima masukan, kritik, dan saran dari berbagai pihak agar pelaksanaan program MBG ke depan dapat berjalan lebih baik. ***