Kuningan, Kontroversinews | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai belum sepenuhnya menyentuh aspek pangan berbasis budaya dan kearifan lokal. Hal ini disampaikan oleh aktivis Kuningan, Nana Barak, dalam keterangannya pada Rabu (8/4/2026) di Sekretariat FK-GOL.
Menurut Nana, pangan lokal justru memiliki keunggulan dari sisi gizi dan adaptasi metabolik dibandingkan makanan impor atau ultra-proses. Ia mencontohkan serabi, makanan tradisional berbahan tepung beras, santan, dan kelapa, yang mengandung karbohidrat kompleks, lemak sehat, serta mudah dicerna oleh anak-anak.
"Jika dipadukan dengan sumber protein lokal seperti oncom, telur ayam kampung, atau ikan sungai, maka menu MBG akan menjadi lebih lengkap dan seimbang," ujarnya.
Ia menegaskan, memasukkan serabi atau makanan khas Sunda lainnya ke dalam program MBG bukan sekadar soal mengenyangkan, tetapi juga membangun food identity. Anak-anak yang mengonsumsi makanan tradisional di sekolah akan merasa bahwa budaya mereka dihargai oleh negara.
Selain itu, pendekatan berbasis budaya dinilai mampu memperkuat ketahanan budaya sekaligus mencegah homogenisasi selera makan anak, yang cenderung mengarah pada makanan instan seperti nugget dan sosis.
Dari sisi penerimaan, pangan lokal juga lebih mudah diterima oleh anak karena sudah familiar dalam kehidupan sehari-hari di rumah.
Nana juga menyoroti dampak ekonomi yang ditimbulkan. Menurutnya, prioritas pada menu lokal seperti serabi akan menciptakan multiplier effect bagi masyarakat. "Mulai dari petani beras, petani kelapa, hingga pengrajin gula aren, seluruh rantai pasok akan bergerak. Ini sejalan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945, bahwa sumber daya harus digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat," jelasnya.
Namun demikian, ia mengingatkan adanya tantangan dalam hal standardisasi dan higienitas. Oleh karena itu, diperlukan standard operating procedure (SOP) produksi serabi dalam skala besar agar tetap aman dikonsumsi, tidak mudah basi, serta memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG).
"Jangan sampai hanya bersifat simbolik. Serabi tidak boleh sekadar menjadi menu tempelan seminggu sekali, tetapi harus masuk dalam rotasi menu yang dirancang oleh ahli gizi daerah," tegasnya.
Ia menyimpulkan, memprioritaskan pangan lokal seperti serabi dalam program MBG merupakan langkah tepat dari sisi gizi, budaya, maupun ekonomi--dengan catatan implementasinya dilakukan secara serius, higienis, dan berkelanjutan.
Kini, menurutnya, tinggal bagaimana Satgas MBG, khususnya di Kabupaten Kuningan, menunjukkan komitmen dan kepedulian terhadap pengembangan makanan berbasis budaya dan kearifan lokal.
"Jika berhasil, Kuningan bisa menjadi barometer nasional dalam pengembangan program MBG berbasis budaya, dan tentu akan mendapat apresiasi dari pemerintah pusat," pungkasnya. ***